Nama : Ardiyanto
NRP : G74100032
Laskar: 12

SAHABATKU…KAU LAH PENGINSPIRASIKU

Cerita ini akan menceritakan sebuah kisah pengalaman hidup sahabatku selama aku mengenal dia. Sebelumnya aku minta maaf, bukan maksudku untuk menjelek-jelekkan dan membuka aib sahabatku sendiri tapi karena aku sangat salut dan bangga mempunyai sahabat seperti dia. Aku ingin seperti dia yang penuh semangat dan keuletan.

“Aku mempunyai seorang teman bernama dodo. Kami saling kenal sejak SMP. Saat SMP aku memang belum terlalu kenal dekat dengan dia, karena dia orangnya agak pendiam (menurut penilaian teman-temannya). Setelah lulus SMP ternyata kami masih ditakdirkan untuk selalu bersama di SMA.
Saat duduk di kelas X Kami berbeda kelas, tapi itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk bisa kenal akrab. Faktanya kami bisa berteman akrab, kami selalu bersama. Setiap pulang sekolah kami selalu pulang bareng (kebetulan kami juga searah).
Saat naik kelas XI dan XII kami berbeda kelas juga.

Hal yang menjadi penginspirasi dan penyemangatku ialah semangat dan keuletan dia dalam belajar. Dia berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Semua dari dia terlihat sangat sederhana. Mulai dari pakaian dan lainnya. Ia selalu mengenakan pakaian yang seakan tidak pernah tersentuh oleh besi panas penghalus kain. Semua yang ia kenakan serba sederhana. Aku tidak tega melihat semua ini. Tapi kesederhanaan tidak menghalanginya untuk tetap menggapai cita-citanya. Dia tidak pernah merasa minder dengan teman-teman lainnya (itu yang terlihat dari pergaulannya sehari-hari).

Prestasinya di kelas cukup lumayan bagus. Saat kelas XI SMA dia mengikuti olimpiade astronomi. Sepengetahuanku dia semangat sekali mengitu bimbingan-bimbingan olimpiade yang diadakan satu minggu sekali di sekolahku.
Sampai akhirnya dia mengikuti test olimpiade dan dia mendapat medali emas dalam olimpiade itu hingga menghantarkan dia sampai tingkat provinsi. Aku bangga punya teman seperti dia.

Ada satu hal yang membuatku kasihan dengan dia. Saat kelas XII dia sering dipanggil untuk menghadap guru BK (Bimbingan Konseling) karena poin dia yang sudah cukup banyak, dikarenakan dia sering terlambat dan bolos sekolah. Itu bukan karena dia anak yang bandel tapi karena jauhnya tempat tinggalnya ke sekolah yang memaksa dia harus begitu.

Dia tinggal di tempat yang cukup jauh, mesti berkali-kali naik angkutan umum untuk bisa sampai di sekolah. Tentu hal itu memakan waktu dan biaya yang cukup banyak untuk sehari-harinya. Karena tidak adanya transportasi cepat (misal motor) yang dia miliki maka dia memutuskan untuk naik sepeda.
Setiap hari dia mengayuh sepeda tuanya yang tak jarang sekali mengalami kerusakan di tengah jalan sampai-sampai dia terlambat atau harus bolos sekolah. Setiap hari dia harus mengayuh beratnya sepeda di bawah panasnya terik matahari, melewati hamparan sawah yang cukup rawan kejahatan.
Meski setiap hari dia harus berpanas-panasan dan kehujanan tapi dia tidak pernah merasakan beratnya semua itu, bahkan sampai mengeluh-eluh, itu tak pernah terdengar di telinga. Dia selalu tampak ceria tanpa masalah, padahal mungkin dalam hati dia menangis, dia tidak pernah ingin merepotkan orang lain.

Aku kadang-kadang terharu dan ingin meneteskan air mata kalau melihat temanku seperti ini. Tapi apa daya, apa yang bisa aku lakukan??? Aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku tak sanggup melihat semua ini…

Sampai menjelang kelulusan kami masih berteman akrab dan sering bertemu. Tapi setelah kelulusan persahabatan kami agak sedikit renggang karena kami sibuk dengan urusan masing-masing. Yang sangat disayangkan darinya adalah dia sekarang tidak melanjutkan pendidikannya karena dia memutuskan untuk bekerja membantu orangtuanya yang sudah cukup tua, dia anak terakhir jadi mau tidak mau dia harus menjaga orangtuanya.

Tetap semangat sahabat baikku !!!
Aku ingin sepertimu yang penuh semangat dan keuletan.
Jangan pantang menyerah !!! Kobarkan semangatmu sama seperti saat di sekolah. Doa kami akan selalu untuk keberhasilanmu. Semoga kamu menjadi orang yang sukses di sana.
Kami selalu mendukungmu walau mungkin hanya melalui doa.

Nama : Ardiyanto
NRP : G74100032
Laskar: 12

Cerita ini berawal dari pengalaman saya sendiri. Dalam cerita ini akan saya ceritakan semua suka, duka, dan perjuanganku untuk menjadi mahasiswa IPB. Baiklah tak usah panjang lebar, saya akan mnceritakannya.

“Ini berawal dari diriku sendiri. Aku adalah tipe orang yang tak mudah putus asa (menurut saya,..). Sejak kecil aku ingin sekali bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin walau kondisi ekonomi keluargaku yang tak memungkinkan. Selama SD sampai SMA aku mendapatkan beasiswa pendidikan baik itu beasiswa kurang mampu maupun beasiswa prestasi. Nahh,..sekarang ini saatnya aku harus memikirkan untuk pendidikan selanjutnya. Sejak kelas 2 SMA aku ingin sekali masuk IPB melalui jalur USMI. Alasan kenapa aku ingin melanjutkan pendidikan di IPB karena menurutku IPB adalah Intitut Paling Bermutu, karena aku berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sumber penghasilannya dari sector pertanian maka aku ingin memajukan sector ini terutama di daerah tempat tinggalku karena pertanian adalah urat nadi kehidupan, alasan selanjutnya karena IPB sangat perhatian dengan kondisi mahasiswa-mahasiswanya terutama dalam hal biaya kuliah, dan masih banyak lagi yang dapat aku banggakan dari IPB.

Saat memasuki kelas 3 SMA aku sudah mempersiapkan untuk pendaftaran masuk IPB. Tapi ada satu hal yang membuatku down, yaitu saat aku memusyawarahkan dengan orangtuaku masalah pendidikanku setelah SMA beliau tidak memberikan jawaban yang memuaskan bagiku. Beliau tidak mengijinkan aku untuk melanjutkan pendidikan karena factor ekonomi. Kata beliau,”ngurusin kamu di SMA saja sudah kelabakan kayak gini, apalagi nanti kalau kuliah. Kamu jangan terlalu banyak berharap bisa kuliah, lihat kondisi kita.”
Jawaban itu membuatku tak berdaya. Aku hanya bisa terdiam dalam tangisan.
Berhari-hari aku tidak konsen dengan pelajaran di sekolah. Tapi semua itu tidak memadamkan semangatku untuk bisa kuliah.
Dengan kondisi keluargaku yang seperti ini, siapa lagi orang yang bisa diandalkan untuk mengubah derajat keluargaku ini ???????
Aku tidak mau melihat keluargaku terus-terusan seperti ini. Setelah adikku yang tidak mau melanjutkan sekolahnya karena dia tidak mau menambah beban orangtuaku, maka hanya aku lah yang harus menjadi harapan mereka. Apalagi dengan pengorbanan dan amanat yang diberikan adikku, adikku berkata,”biar kakak saja yang sekolah, adik nggak usah.” Amanat itu begitu berarti bagiku, adik mau mengorbankan masa-masa indahnya hanya untuk seorang kakaknya.

Aku mencoba untuk meyakinkan orangtuaku agar diijinkan mendaftar di IPB.
Meski orangtua belum yakin sepenuhnya, tapi aku akan tetap mencoba. Aku ingin sekali melanjutkan pendidikan. Selagi belum ada Undang-Undang yang menyatakan bahwa “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” maka aku akan tetap terus berusaha untuk bisa sekolah.

Waktu itu adalah saat yang membuat kecil harapanku untuk kuliah di IPB. Undangan pendaftaran masuk IPB belum juga kunjung datang ke sekolahku. Padahal batas akhir pengiriman berkas tinggal 4 hari lagi. Aku bingung, apa yang mesti aku lakukan???
Aku mencari info-info kesana kemari sampai-sampai aku mengorbankan belajarku. Berbagai tempat telah aku datangi tapi hasilnya nihil.
Tapi akhirnya aku mendapat hasilnya dari kakak seniorku yang di kuliah IPB, formulir sudah ku dapat. Sekarang saatnya aku harus melengkapi semua berkas-berkas dalam waktu yang begitu singkat itu.
Hingga batas akhir pengiriman berkas, berkasku pun telah siap. Berkaspun dikirim.
Sekarang saatnya aku menunggu pengumuman hasilnya 2 bulan kedepan.

Jawaban orangtuaku masih menghantuiku, tapi aku akan terus berusaha untuk tidak membebankan orangtuaku, apapun yang terjadi.
Sampai akhirnya pengumumanpun datang, dan allhamdulilah aku diterima untuk menjadi mahasiswa IPB.
Dan Allah telah menunjukkan kemurahan-Nya, Dia memberiku salah satu jalan untuk bisa kuliah, selain diterima menjadi mahasiswa IPB aku juga mendapat formulir beasiswa BIDIK MISI. Aku sangat senang karena ada satu peluang harapan agar aku dapat meringankan beban orangtuaku.

Setelah kelulusan UN, aku menanti jawaban dari beasiswa itu. Teman-teman dari daerah lain sudah menerima balasan beasiswa itu, tapi aku belum mendapatkannya juga. Aku sudah pasrah, aku sudah tidak yakin kalau aku akan mendapatkan beasiswa itu karena berhari-hari aku tak mendapat jawabannya. Kalau aku tidak mendapat beasiswa itu, kecil harapan aku bisa kuliah, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan agar bisa membayar biaya masuknya yang lumayan cukup besar.
Tapi Allah ternyata berkata lain, setelah aku tak banyak berharap lagi dengan beasiswa itu, Allah memberikan jawaban kekhawatiranku selama ini, aku mendapat beasiswa itu.
Aku bersyukur akan semua ini. Terima kasih ya Allah. Terima kasih IPB.

Akhirnya anak yang berasal dari keluarga seorang petani miskin bisa melanjutkan pendidikannya.
Aku harus bisa menjaga kepercayaan yang telah IPB berikan kepadaku. Aku harus buktikan bahwa aku mampu tuk dapat yang terbaik. InsyaAllah IPB tidak salah memberikan kepercayaannya kepadaku.”

Itulah pengalamanku selama akan menjadi seorang mahasiswa IPB. Semoga cerita ini bisa menginspirasi bagi anda (terutama bagi anda yang senasib dan seperjuangan dengan aku) bahwa kalau ada niat dan kemauan yang positif semua pasti akan ada jalan. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Tetap SEMANGAT !!!

ardi’s
May 2017
S M T W T F S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Recent Comments
    Categories